Showing posts with label Penis. Show all posts
Showing posts with label Penis. Show all posts

Thursday, August 27, 2009

Penis Gak Perlu Panjang, Yang Penting Sampai

Kepuasan seks yang dirasakan oleh kedua pihak merupakan inti dari hubungan intim yang dilakukan oleh pasangan suami-istri (Pasutri). Ada banyak faktor yang menentukan kenikmatan seks, salah satunya adalah bentuk dan panjang penis.

Menurut dr. Ferryal Loetan, ASC&T, MMR, SpRM, M.Kes, konsultan seks, banyak pria Indonesia beranggapan dirinya tidak akan mampu membahagiakan pasangannya, sebelum mempunyai ukuran penis besar seperti yang mereka lihat di Blue Film. "Padahal ukuran wajar penis untuk rumpun Asia adalah sembilan centimeter, dan ukuran tersebut sudah cukup untuk membahagiakan pasangan," terang Ferryal, saat talk show seksologi di hotel Ibis Slipi, Jakarta, Sabtu (9/8).

Ferryal melanjutkan, jika ada ukuran penis pria di Indonesia yang lebih dari sembilan centimeter (cm) hal itu tidak akan banyak berguna di dalam berhubungan intim. Sebab ukuran penis yang lebih dari sembilan cm, belum tentu dapat masuk seluruhnya ke dalam lubang vagina wanita. "Yang penting, penis mampu menyentuh bagian G spot yang berada di bagian dalam organ intim wanita. G Spot itulah yang akan membuat wanita menjadi terangsang dan mengalami kenikmatan seksual saat berhubungan intim," beber Ferryal.

"G Spot berjarak dua inchi dari permukaan vagina. Bila G Spot sudah tersentuh oleh penis pasti akan membuat wanita terangsang," ujar Ferryal. (C11-08)

Usia Bertambah, "Junior" Ikut Berubah

Selasa, 4 Agustus 2009 | 11:16 WIB
KOMPAS.com - Secara alamiah, makin bertambah umur, kemampuan tubuh untuk memproduksi hormon pun berkurang. Dampak dari proses penuaan ini bukan hanya terlihat dari penampilan kulit tapi juga organ-organ tubuh, termasuk alat vital. Apa saja penuaan yang mungkin terjadi pada si "junior?"

Bukan rahasia lagi bahwa fungsi organ seksual pria makin lama terus menurun seiring dengan usia. Penurunan kadar testoteron (hormon pria) pada pria usia lanjut dapat menyebabkan andropause yang berakibat pada pelbagai perubahan. Sebut saja, mudah letih, lesu, rambut rontok, libido menurun, penis mengecil, bahkan bisa terjadi impotensi dan masalah sirkulasi darah.

Di luar hal itu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa penis juga mengalami perubahan signifikan seiring usia. Apa saja perubahan yang dialami oleh penis?

Rupa dan penampilan
Ada dua perubahan utama yang secara kasat mata bisa dilihat dari alat vital pria. Pertama adalah kepala penis yang secara bertahap mengalami perubahan warna akibat berkurangnya sirkulasi darah ke area ini. Selain itu, rambut di kemaluan juga akan semakin menipis.

"Berkurangnya kadar testoteron bisa membuat penis lama-lama kembali ke masa sebelum pubertas, misalnya berkurangnya rambut di area ini," kata Irwin Goldstein, MD, direktur sexual medicine dari Alvarado Hospital, AS, dan editor in chief jurnal ilmiah The Journal of Sexual Medicine.

Ukuran
Bertambahnya usia pria biasanya diikuti dengan penambahan berat badan. Penumpukan lemak di bagian bawah perut membuat ukuran penis terlihat mengecil. Meski penyusutan ini tidak dramatis, tapi tetap terlihat. "Bila pria di usia 30-an saat ereksi ukuran penisnya mencapai 6 inci, mungkin di usia 60-70 tahun panjangnya hanya sekitar 5 inci," kata Goldstein.

Apa yang membuat penis menyusut? Menurut para ahli ada dua penyebab. Pertama adalah penumpulan deposit lemak yang menyebabkan plak di arteri kecil di penis. Plak ini akan menyebabkan aliran darah ke penis terhambat. Penumpukan plak (ateroklerosis) yang terjadi pada jantung akan menyebabkan serangan jantung.

Penyebab kedua, menurut Goldstein, adalah berkurangnya elastisitas karena menurunnya lapisan kolagen yang mengelilingi serabut bilik ereksi. Ereksi terjadi bila bilik ini terisi darah. Nah, penutupan arteri di bagian penis membuat bilik ini makin tidak elastis yang berakibat pada berkurangnya kadar kekerasan saat ereksi.

Bila penis berubah, demikian pula dengan testis. "Sekitar usia 40 tahun, testis ikut menyusut," kata Goldstein. Ukuran testis pada pria berusia 30-an memiliki diameter sekitar 3 cm, namun saat pria berusia 60 tahun, ukurannya tinggal 2 cm.

Bengkok
Pembesaran penis yang dilakukan sembarangan tanpa kontrol tenaga medis bisa menyebabkan jaringan parut di sekitar penis menjadi tidak rata. Hal ini akan menyebabkan penis bengkok atau disebut dengan peyronie. Kondisi ini akan menimbulkan rasa sakit saat ereksi dan menyulitkan hubungan seksual. Untuk membetulkan kondisi penis, biasanya diperlukan tindakan operasi.

Kurang sensitif
Berbagai penelitian menunjukkan makin tua usia, "alat tempur" pria pun makin kurang sensitif terhadap rangsangan. Akibatnya, junior jadi sulit dibangunkan dan sulit mencapai orgasme.

Penelitian yang dilakukan di Minnesota, AS, terhadap 2.213 pria menunjukkan penurunan yang tajam terhadap kemampuan ereksi pria, berkurangnya libido dan kemampuan ejakulasi pada pria paruh baya. Namun, kepuasan seksual hanya berkurang sedikit.

Untungnya perubahan-perubahan pada organ vital ini terjadi perlahan-lahan dan mulainya sangat bervariasi. Ada yang mulai di usia 40-an, 50-an, 60-an, bahkan setelah 65 tahun. Agar penurunan fungsi organ vital ini tidak terlalu tajam, kuncinya hanya satu: hidup sehat.

Antara Penis dan Ras

Pria dari Timur Tengah sudah pasti memiliki ukuran penis jumbo. Sebaliknya, orang Asia memiliki ukuran penis mungil-mungil. Begitulah mitos yang berkembang mengenai ukuran penis dan suku bangsa seseorang.

Mayoritas, pria dan wanita yang disurvei di berbagai negara setuju dengan pernyataan bahwa ukuran penis berkaitan dengan ras atau suku bangsa seseorang. Meski tidak ada orang yang pernah tidur dengan semua pria dari semua suku bangsa di seluruh dunia, tapi mitos dan kepercayaan tentang ukuran penis ini sudah berkembang luas secara internasional.

Faktanya, tidak ada satu pun studi yang bisa memberi jawaban memuaskan atas praduga yang terlanjur berkembang tersebut. Lalu, mengapa mitos tentang ukuran penis dan ras itu ada? Bukankah tak ada asap bila tak ada api? Charles Panati, dalam buku Sexy Origin and Intimate Things, membeberkan alasannya:

Pria Asia memiliki penis yang kecil
Mungkin hal ini dikaitkan dengan postur badan orang Asia yang lebih pendek dibanding orang Eropa sehingga dikonotasikan bahwa penis mereka pun berukuran kecil.

Pria Italia paling jago bercinta
Hal ini diduga karena adanya mitos yang menyebutkan bahwa penis orang Italia lebih tebal sehingga akan memberi kenikmatan lebih besar. Vagina memang lebih mudah terstimulasi oleh penis yang secara diameter lebih besar, ketimbang penis yang panjang, karena akan memberikan tekanan yang lebih intens pada saraf-saraf di area intim wanita.

Pria Timur Tengah "yunior"-nya paling besar
Lagi-lagi ini juga dikaitkan dengan postur badan pria asal Timur Tengah yang memang tinggi dan besar.

Orang Irlandia kuno pernah difoto dalam postur tubuh kurus tapi berotot. Hal ini menyebabkan orang menduga, pria asal Irlandia pasti juga memiliki penis yang kurus dan seluruh bagian kulupnya disunat.

Menurut Panati, kita terbiasa melihat seseorang berdasarkan postur tubuhnya dan latar belakang suku bangsanya sehingga kita pun menyimpulkan bahwa alat vital mereka pun tak jauh berbeda.
Penelitian yang dilakukan Kinsey melaporkan, ukuran penis rata-rata pria kulit putih sebelum ereksi adalah empat inci. Pada pria kulit hitam mencapai empat setengah inci.

Berbagai studi menunjukkan, sebagian besar pria, apa pun suku bangsanya, merasa ukuran penis mereka kurang besar. Meski mereka mengaku penis mereka berfungsi dengan baik, tapi tetap saja mereka berharap alat vital mereka bisa lebih panjang lagi.

Seharusnya, para pria tak perlu khawatir dengan ukuran penisnya. Pasalnya, sependek apa pun ukuran alat kelamin pria, G-spot wanita tetap bisa tersentuh.